Nafiun.com

Jurnal, Artikel Ilmiah, Referensi, Sains, Teknologi, Materi Pelajaran, Cerita Rakyat, Dongeng.

Wednesday, June 4, 2014

Bahan Bakar Nabati Biofuel Mikroalga

Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian kehidupan manusia di bumi. Berdasarkan data Departemen ESDM (2008), kondisi umum penggunaan energi di Indonesia masih tergantung kepada minyak bumi sebesar 51.66%, gas alam 28.57%, batubara 15.34%, tenaga air 3.11% dan panas bumi 1.32%. Konsumsi energi terus meningkat dengan pertumbuhan sekitar 7% pertahun. Sebagai upaya menjamin pasokan energi dalam negeri, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional sebagai pedoman dalam pengelolaan energi nasional. Salah satunya adalah dengan melakukan diversifikasi energi dengan memanfaatkan sumber bahan hayati Indonesia melalui pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai sumber energi alternatif. Pengembangan BBN diharapkan dapat menurunkan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sesuai INPRES No. 01/2006. Terdapat beberapa jenis BBN yang dikenal di masyarakat umum yaitu biodiesel, bioetanol dan biooil (minyak nabati murni). BBN yang masuk dalam program energi mix Blue Print Pengelolaan Energi Nasional (BP-PEN) adalah Biodiesel dan Bioetanol. Biodiesel adalah bahan bakar substitusi solar/diesel yang berasal dari pengolahan (esterifikasi dan transesterifikasi) minyak nabati. Bioetanol adalah bahan bakar substitusi bensin (gasolin) yang berasal dari pengolahan (fermentasi dan hidrolisis) glukosa atau karbohidrat. Penggunaan BBN di Indonesia dan pemasarannya secara umum sudah mulai dilakukan sejak tahun 2006. BBN yang digunakan dan dipasarkan tersebut adalah campuran 5% bio-diesel dengan 95% minyak solar, disebut B5, serta campuran 5% bio-etanol dengan 95% premium, disebut E5. Nama dagang campuran bahan bakar tersebut adalah Bio-solar (B5) dan Bio-premium (E5).

Menurut publikasi British Pretoleum (BP) dalam Stastitical Review of World Energi (2005), bahwa produksi tertinggi minyak Indonesia terjadi pada tahun 1997 dengan rata-rata sebesar 1.685 ribu barel per hari. Produksi minyak Indonesia setelah itu tidak pernah lagi mencapai angka tersebut. Pada tahun 2004, produksi minyak Indonesia hanya sebesar 1126 ribu barel per hari. Angka ini sudah berada di bawah konsumsi konsumsi BMM Indonesia yang jumlahnya sebesar 1150 ribu barel per hari. Grafik produksi dan konsumsi minyak di Indonesia disajikan pada Gambar 1.

Menurut Apriyantono (2006), dalam rangka menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri  dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan, telah diterbitkan Peraturan Presiden (Per Pres) No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional, dalam peraturan presiden tersebut sasaran peranan BBN (biofuel) dalam konsumsi energi nasional ditargetkan lebih dari 5 % pada tahun 2025. BBN yang layak dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel dan bioetanol. Secara ilmiah, biodiesel adalah bahan bakar substitusi solar / diesel yang berasal dari ekstraksi minyak nabati yang terbuat dari sumber daya hayati atau biomassa. Pengertian biodiesel dalam kerangka industri / komersial masa kini adalah bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil asam-asam lemak. Sedangkan bioetanol adalah bahan bakar substitusi bensin (gasolin) yang berasal dari pengolahan (fermentasi dan hidrolisis) glukosa atau karbohidrat (Wahyudi, 2006).


Sebagai Negara agraris di kawasan tropis, ada banyak jenis sumber bahan baku nabati yang dapat diolah menjadi BBN (biofuel) yang beberapa diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai sumber lipid atau minyak untuk keperluan komersial, seperti minyak sawit, minyak kelapa dan tebu. Sementara sebagian lainnya belum termanfaatkan secara optimal seperti ganggang mikro. Terdapat beberapa kelebihan pemanfaatan ganggang mikro sebagai sumber BBN dibandingkan sumber lainnya. Komoditas ini juga memiliki potensi lain seperti menjadi bahan pangan, pakan ternak dan berguna untuk berbagai industry pengolahan. Ada beberapa cara ekstraksi minyak nabati yang berasal dari ganggang mikro menurut Oilgae (2006), diantaranya adalah :

1) Pengepresan (Expeller/Press)

Pengepresan adalah penggunaan alat pengepres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung dalam ganggang, ganggang yang sudah siap panen dipanaskan dahulu untuk menghilangkan air yang masih terkandung di dalamnya, dengan menggunakan alat pengepres ini dapat diekstrasi sekitar 70 - 75% minyak yang terkandung dalam ganggang.

2) Chemical solvent oil extraction

Chemical solvent oil extraction adalah penggunaan pelarut kimia. Minyak dari ganggang dapat diambil dengan menggunakan larutan kimia, misalnya dengan menggunakan, eter, hexana, atau metanol.

3) Supercritical Fluid Extraction

Supercritical Fluid Extraction adalah penggunaan CO2, CO2 dicairkan dibawah tekanan normal kemudian dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas. Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi minyak dari ganggang. Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100% minyak yang terkandung dalam ganggang. Namun begitu, metode ini memerlukan peralatan khusus untuk penahanan tekanan. Proses konversi minyak menjadi biodiesel dilakukan melalui tahapan transesterifikasi. Proses transesterifikasi diperlukan dalam pembuatan biodiesel karena minyak lemak (atau minyak nabati) mentah masih mengandung fosfat / fosfolipid yang dapat menyebabkan kerak/ deposit, mengandung asam lemak bebas yang dapat bersifat korosif. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa biodiesel (Fatty Acids Methyl Ester) adalah bahan bakar yang bermutu tinggi dan secara teknis, biodiesel layak dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin diesel (Soerawidjaja, 2006).

Referensi :

Apriyantono A. 2006. Penyediaan Bahan Baku Biodiesel di Indonesia. Di dalam: Hambali E, Suryani A, Setyaningsih D, Soerawidjaja TH, Brojonegoro TP, Prawita T, Mujdalipah S, editor. Prosiding Simposium Biodiesel Indonesia. Jakarta, 5-6 September 2006. LPPM IPB: Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi. hlm 27-34.

[Departemen ESDM] Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. 2008. . http://www. djlpe esdm.go.id [12 Desember 2008].

[Oilgae] Oil algae. 2006. Algae Oil Extraction.http://www.oilgae.com [26 Desember 2008].

Soerawidjaja TH. 2006. Skenario-Skenario Struktur Perindustrian Biodiesel. Di dalam: Hambali E, Suryani A, Setyaningsih D, Soerawidjaja TH, Brojonegoro TP, Prawita T, Mujdalipah S, editor. Prosiding Simposium Biodiesel Indonesia. Jakarta, 5-6 September 2006. LPPM IPB: Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi. hlm 105-114.

Wahyudi B. 2006. Kebijakan Industri biodiesel dan bioetanol di Indonesia. Prosiding Workshop Nasional bisnis biodiesel dan bioethanol di Indonesia. Jakarta, 21 November 2006. hlm 38-39.

Berikut ini materi yang dapat digunakan untuk membuat makalah :

Pengembangan Bahan Bakar Nabati untuk Mengurangi Dampak Pemanasan Global*)

Agus Sugiyono
Peneliti Bidang Perencaan Energi
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
agussugiyono@yahoo.com

Abstrak

Tingginya harga minyak mentah dunia mengakibatkan anggaran pemerintah dalam menyediakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) meningkat. Bahan Bakar Nabati (BBN) merupakan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai substitusi BBM yang diharapkan dapat mengurangi beban pemerintah tersebut. Disamping itu BBN merupakan bahan bakar bersih dan dapat mengurangi emisi GRK. Dalam makalah ini dibahas lebih lanjut potensi pengembangan biodiesel sebagai salah satu bentuk BBN dalam hal kebutuhan lahan dan pengurangan emisi CO2.

Kata kunci: biodiesel, kelapa sawit, emisi CO2

*) Dipresentasikan pada Seminar Nasional Kebijakan Pemanfaatan Lahan dalam Menanggulangi Dampak Pemenasan Global, Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UGM, Jogjakarta 10 Mei 2008.

1. Pendahuluan

Pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Agenda untuk menyelesaikan masalah ini diawali pada tahun 1992 dengan diadakannya Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil yang menghasilkan Kerangka Konvensi untuk Perubahan Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change - UNFCCC) dan ditandatangai oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi CO2. Indonesia telah meratifikasi konvensi ini melalui Undang Undang No. 6 Tahun 1994 mengenai perubahan iklim dan Undang Undang No. 17 Tahun 2004 tentang pengesahan Protokol Kyoto. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia tidak berkewajiban untuk mengurangi emisi CO2 namun diharapkan untuk melaporkan besarnya emisi CO2 yang dihasilkan. Dalam kaitan ini, Indonesia telah menyampaikan kepada UNFCCC hasil penyusunan Komunikasi Nasional Pertama (First National Communication) pada tahun 1999 sebagai bukti keseriusannya dalam menangani perubahan iklim. Saat ini Indonesia sedang menyiapkan penyusun Komunikasi Nasional Kedua yang diharapkan dapat selesai pada tahun 2009. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) sebagai lembaga yang menjadi focal point dalam implementasi programprogram yang berhubungan dengan perubahan iklim.

Emisi CO2 dapat berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti: batubara, minyak bumi dan gas bumi, emisi dari industri semen dan konversi lahan. Berdasarkan data dari Carbon Dioxide Information Analysis Center (2000) penggunaan bahan bakar fosil merupakan sumber utama emisi CO2 di dunia dan mencapai 74% dari total emisi. Konversi lahan mempunyai kontribusi sebesar 24% dan industri semen sebesar 3%. Emisi CO2 merupakan bagian terbesar dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Indonesia dengan pangsa sebesar hampir 70 % sedangkan gas lainnya sebesar 30 %.

Berdasarkan laporan Komunikasi Nasional Pertama, sumber utama emisi GRK adalah sektor energi dan sektor kehutanan. Sektor energi mempunyai pangsa sebesar 46 % dari total emisi GRK yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil pada bermacam-macam aktivitas seperti: produksi energi, pengolahan energi dan juga pembakaran energi yang digunakan baik untuk pembangkit listrik maupun untuk keperluan industri lainnya.

Konsumsi energi komersial di Indonesia terus mengalami peningkatan dari 218,2 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 1990 menjadi 546,6 juta SBM pada tahun 2005 atau meningkat sebesar 6,3% per tahun. Berdasarkan jenis energinya, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan konsumsi energi komersial terbesar. Sebagian besar konsumsi BBM ini digunakan untuk sektor transportasi. Peningkatan konsumsi BBM ini membebani anggaran pemerintah dalam pemberian subsidi. Beban tersebut akan terus meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak dunia karena pemerintah masih harus mengimpor sebagian BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dapat merupakan salah satu pilihan untuk membantu mengatasi besarnya tekanan kebutuhan BBM terutama minyak diesel dan minyak solar.

2. Bahan Bakar Nabati

Pemerintah melalui Peraturan Presiden No.5 tahun 2006 mengeluarkan kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Kebijakan utama meliputi penyediaan energi yang optimal, pemanfaatan energi yang efisien, penetapan harga energi ke arah harga keekonomian dan pelestarian lingkungan. Kebijakan ini juga memuat target pencapaian bauran energi (energy mix) sampai tahun 2025 seperti ditunjukkan pada Gambar 1. 
Target Bauran Energi 2025
Gambar 1. Target Bauran Energi 2025.
Kebijakan ini diikuti dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No.1 Tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan BBN sebagai bahan bakar lain dan ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran melalui Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2006. Tim nasional ini berkewajiban untuk menyusun Blue Print dan Road Map Pengembangan BBN.

Di samping kebijakan tersebut di atas, Presiden mencanangkan Indonesia Green Energy Action Plan. Pengembangan green energy atau energi yang berbahan baku nabati mempunyai tiga aspek penting yang diyakini dapat mendorong perekonomian nasional, yaitu:

• Pro Jobs untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas
• Pro Growth yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan
• Pro Poor yang akan mengurangi tingkat kemiskinan.

BBN merupakan salah satu bentuk green energy yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: biodiesel, bioetanol, dan Pure Plant Oil (PPO) atau sering disebut biooil.

Biodiesel merupakan bentuk ester dari minyak nabati. Bahan baku dapat berasal dari kelapa sawit, jarak pagar, kedelai dan kelapa. Dalam pemanfaatanya dicampur dengan minyak solar dengan perbandingan tertentu. B5 merupakan campuran 5% biodiesel dengan 95% minyak solar yang dijual secara komersiil oleh Pertamina dengan nama dagang biosolar.

• Bioetanol merupakan anhydrous alkohol yang berasal dari fermentasi tetes tebu, singkong, jagung atau sagu. Bioetanol dimanfaatkan untuk mengurangi konsumsi premium. E5 merupakan campuran 5% bioetanol dengan 95% premium yang telah dipasarkan Pertamina dengan nama dagang biopremium. Penggunaan bioetanol sampai dengan E15 tidak perlu melakukan modifikasi mesin kendaraan yang sudah ada, tetapi untuk E100 hanya dapat digunakan untuk mobil jenis FFV (flexible fuel vehicle).
• PPO merupakan minyak nabati murni tanpa perubahan sifat kimiawi dan dimanfaatkan secara langsung untuk mengurangi konsumsi solar industri, minyak diesel, minyak tanah dan minyak bakar. O15 merupakan campuran 15% PPO dengan 85% minyak diesel dan dapat digunakan tanpa tambahan peralatan khusus untuk bahan bakar peralatan industri. Pemakaian yang lebih besar dari O15 harus menambah peralatan konverter. Proses pembuatan BBN secara ringkas serta bahan baku yang digunakan ditunjukkan pada Gambar 2.
Bahan Baku dan Proses Pembuatan BBN
Gambar 2. Bahan Baku dan Proses Pembuatan BBN.
Untuk selanjutnya yang akan dibahas lebih lanjut yaitu pemanfaatan biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palm Oil).

3. Potensi Pengurangan Emisi

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan emisi polutan yang berbahaya terhadap kesehatan. Penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dapat menurunkan emisi bila dibandingkan dengan penggunaan minyak solar. Biodiesel terbuat dari minyak nabati yang berasal dari sumber daya yang dapat diperbaharui. Pertimbangan lain untuk penggembangkan biodiesel adalah makin tingginya harga minyak bumi dan untuk mengurangi emisi GRK.

3.1. Pengembangan Biodiesel

Dari berbagai jenis bahan baku biodiesel maka biodiesel dari minyak kelapa sawit (CPO) mempunyai prospek untuk dikembangkan mengingat jumlah ketersediaan dan potensi pengembangan tanaman kelapa sawit yang cukup besar. Dalam penggunaannya biodiesel harus dicampur dengan minyak solar/diesel. Program uji coba pemasaran campuran 5% biodiesel dengan 95% minyak solar yang diberi nama dagang biosolar dimulai pada Maret 2006 sampai April 2007 di wilayah Jabotabek. Biosolar dipasarkan pada 201 SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum) dan volume penjualannya mencapai 314.187 kl.

Sedangkan untuk wilayah Surabaya dilaksanakan pada 15 SPBU dengan volume penjualannya mencapai 9.845 kl. Produksi biodiesel pada April 2007 mencapai 520.000 kl yang diproduksi oleh sekitar 8 perusahaan dengan PT. Wilmar, Dumai merupakan pemasok terbesar dengan kapasitas 350.000 ton/tahun disusul PT. Eterindo Wahanatama, Gresik dengan kapasitas 120.000 ton/tahun.

Dari sisi hilir, teknologi pengolahan biodiesel terus dikembangkan dan secara nasional sudah dapat dikuasai rancang bangun industri pengolahan biodiesel. BPPT telah mendisain dan membangun pabrik biodiesel dengan kapasitas 1,5 ton per hari sebagai prototipe pada tahun 2000. Prototipe ini kemudian dikembangkan lagi dan bersama dengan Pemda Provinsi Riau mendirikan pabrik biodiesel dengan kapasitas 8 ton per hari tipe batch. Pada tahun 2006 didirikan pilot plant pabrik biodiesel skala 3 ton/hari tipe kontinu berlokasi di Puspiptek, Serpong. Detail disain pabrik biodiesel skala komersial 80 ton per hari sudah dapat diselesaikan pada tahun 2007. Disamping BPPT, institusi lain seperti Lemigas, ITB, Departemen Pertanian, LIPI, PT. Rekin, dan beberapa perusahaan swasta, seperti PT. Energy Alternative Indonesia (EAI) dan PT. Eterindo Wahanatama juga mengembangkan pabrik biodiesel yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Rencana pengembangan pabrik biodiesel sampai tahun 2009 ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rencana Pengembangan Pabrik Biodiesel dan Lahan untuk Bahan Baku sampai Tahun 2009

Rencana Pengembangan Pabrik Biodiesel dan Lahan untuk Bahan Baku sampai Tahun 2009
Dari sisi hulu, dapat dilihat kondisi perkebunan kelapa sawit serta produksi CPO saat ini. Perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini dapat dikelompokkan berdasarkan pengelolaannya, yaitu: perkebunan rakyat, perkebunan negara atau BUMN, dan perkebunan swasta. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2006 mencapai 6,1 juta hektar dengan produksi CPO mencapai 13,5 juta ton. Luas perkebunan sawit selama periode 2000-2006 terus mengalami peningkatan rata-rata 8,3% per tahun. Sebagian besar dari perkebunan kelapa sawit berada di Sumatera sekitar 4,6 juta hektar, sedangkan sisanya secara berturut-turut tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa (Lihat Tabel 2).

Tabel 2. Luas Area Perkebunan Kelapa Sawit dan Produksi CPO Menurut Wilayah

Wilayah
2004
2005
2006
Luas
Produksi
Luas
Produksi
Luas
Produksi
(Ribu Ha)
(Ribu Ton)
(Ribu Ha)
(Ribu Ton)
(Ribu Ha)
(Ribu Ton)
Sumatera
2.744
6.597
4.101
9.687
4.582
10.582
Jawa
21
34
23
36
28
40
Kalimantan
844
741
1.152
1.982
1.280
2.421
Sulawesi
108
118
123
334
135
347
Papua
52
91
39
85
62
119
Indonesia
3.769
7.581
5.437
12.124
6.087
13.510
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2007)

CPO yang diproduksi sebagian besar diekspor dan sebagian lagi untuk bahan baku pembuatan minyak goreng dan sabun untuk keperluan dalam negeri. Dengan adanya program pengembangan biodiesel ini perlu penambahan lahan kelapa sawit yang cukup besar. Pengembangan ini diharapkan dapat membantu mengatasi masalah: pertumbuhan ekonomi, kurangnya lapangan kerja dan kemiskinan. Oleh karena itu dalam pengembangannya perlu diperhatikan faktor-faktor teknis, ekonomis, dan dampak sosial sehingga hasilnya diharapkan dapat lebih berdaya guna. Tim Nasional Pengembangan BBN pada tahun 2006 telah mengeluarkan Blue Print Pengembangan BBN yang dapat digunakan sebagai acuan strategis dalam penyediaan dan pemanfaatan BBN termasuk di dalamnya road map yang merupakan peta langkah dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diinginkan dalam kurun waktu 2006-2025.

Potensi penyediaan bahan baku BBN di Indonesia masih cukup besar. Lahan untuk pengembangan tanaman masih cukup tersedia dan beberapa wilayah kondisi agroklimatnya sesuai untuk tanaman penghasil BBN (Lihat Gambar 3).
Potensi Lahan untuk Pengembangan Komoditas Penghasil BBN
Gambar 3. Potensi Lahan untuk Pengembangan Komoditas Penghasil BBN.
Di samping kesesuaian lahan perlu juga diperhatikan aspek legal dalam pengembangan lahan. Ada beberapa pola pengembangan yang akan diprioritaskan yaitu:

• Pengembangan kebun khusus (dedicated area) dengan lebih dahulu memanfaatkan ijin usaha perkebunan (IUP) yang telah dikeluarkan tapi belum dimanfaatkan maupun melalui ijin/investor baru.
• Pemanfaatan lahan terlantar, lahan kritis dan hutan produksi yang dapat dikonversi.
• Pemanfaatan HGU terlantar dan ijin usaha perkebunan yang tidak aktif.
• Memetakan pertanaman yang sudah tua dan meremajakan pertanaman melalui pemanfaatan bibit unggul bersertifikat.

Salah satu bagian penting dari Blue Print tersebut adalah rencana pengembangan biodiesel dari kelapa sawit seperti ditunjukkan pada Tabel 3.

Dalam pengembangan biodiesel disamping aspek luas lahan aspek kebutuhan tenaga kerja serta investasi juga perlu diperhatikan. Pendanaan semaksimal diusahakan bersumber dari dalam negeri, sedangkan pendanaan dari luar negeri dapat dilakukan dengan pemilihan secara selektif.

Tabel 3. Proyeksi Pengembangan BBN dari Kelapa Sawit

Parameter
Unit/tahun
Jangka
Menengah
(2010-2015)
Jangka
Panjang
(2015-2025)
Biodiesel
Ton minyak
6.000.000
16.000.000
Produksi
Ton Biji
30.000.000
80.000.000
Industri
Unit
167
444
Lahan
Hektar
1.500.000
4.000.000
Tenaga kerja langsung
Orang
750.000
2.000.000
Tenaga kerja tak langsung
Orang
1.167
3.111
Pendapatan/orang (@2 ha)
Rp/orang
20.000.000
20.000.000
Bibit
Ton batang
202.500.000
540.000.000
Investasi on farm
Juta
45.000.000
120.000.000
Investasi off farm
Juta
10.000.000
26.666.667
Sumber: Timnas BBN (2006)

3.2. Pengembangan BBN di Negara Lain

Pada tahun 1970 ketika terjadi krisis minyak yang pertama, Brasil berusaha untuk tidak menggunakan minyak impor yang mahal tetapi mengembangkan bahan bakar alkohol dari tetes tebu. Program ini berhasil berkat dukungan dari industri rancang bangun nasional serta industri manufaktur untuk mengembangkan mobil berbahan bakar alkohol murni (FFV). Pada tahun 2004 lebih dari 150.000 unit mobil FFV terjual dan hampir 15% menggunakan E100 sedangkan sisanya menggunakan E20. Perusahaan otomotif seperti Ford, General Motor, Chrysler, Mazda, Isuzu, dan Mercedes sudah menyelesaikan sekitar 20 model kendaraan penumpang dan truk yang menggunakan E85.

Saat ini Brasil menjadi produsen etanol terbesar di dunia yang mengoperasikan sekitar 400 unit pabrik etanol dengan kapasitas produksi sekitar 16 juta kl per tahun.

Keberhasilan program alkohol di Brasil telah mengilhami pengembangan BBN di negara-negara lain. Pada tahun 1990 Perancis meluncurkan produk biodiesel dari proses trans-esterifikasi minyak rapeseed. Biodiesel B5 digunakan untuk kendaran bermotor yang didukung oleh perusahaan otomotif Renault dan Peugeot. Amerika Serikat sejak mengeluarkan Energy Policy Act pada tahun 2005 terus meningkatkan penggunaan etanol dari bahan baku jagung. Ditargetkan konsumsi etanol akan meningkat 20% pada tahun 2012 sehingga dapat menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja baru. Sekarang sedang dipromosikan penggunaan E85 di 240 buah SPBU dengan target pasar sekitar 3 juta kendaraan FFV yang sudah ada.

3.3. Inventori, Mitigasi dan Adaptasi

Dalam kerangka penanggulangan pemanasan global ada tiga langkah yang perlu dilakukan, yaitu: inventori, mitigasi, dan adaptasi. Inventori GRK dilakukan untuk mengetahui besar dan sumber emisi GRK pada periode tertentu. Program mitigasi GRK dilakukan untuk menurunkan emisi GRK dari segi sumber emisi (source) maupun penyediaan wadah (sink) sehingga dapat meredam pemanasan dan perubahan iklim global. Teknologi untuk mitigasi GRK dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu: untuk sisi penawaran dan untuk sisi permintaan. Untuk sisi penawaran dapat dilakukan dengan menggunakan sistem konversi yang lebih efisien, mengubah bahan bakar dari energi yang mempunyai emisi tinggi menjadi energi yang mempunyai emisi rendah, dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Untuk sisi permintaan dapat melalui demand side management dan penggunaan peralatan yang lebih efisien. Adaptasi dilakukan melalui penyesuaian sistem produksi maupun perubahan perilaku kedalam program-program baik jangka pendek, menegah dan panjang dalam rangka mengimplementasikan mitigasi GRK.

Sektor transportasi merupakan konsumen BBM terbesar di Indonesia yang mencapai 33,3 juta kl pada tahun 2005. Kebutuhan bahan bakar untuk sektor transportasi secara keseluruhan didominasi oleh penggunaan BBM, yaitu: minyak solar/diesel dan bensin. Bahan bakar tersebut dikonsumsi lebih dari 85% dari total kebutuhan. Sisanya adalah minyak tanah dan minyak bakar atau fuel oil (FO). Konsumsi BBM diperkirakan akan terus meningkat dengan pertumbuhan sebesar 6,2% per tahun. Penggunaan BBM yang merupakan bahan bakar fosil ini secara langsung akan berpengaruh pada besarnya emisi GRK. BBN merupakan energi terbarukan yang berpotensi menjadi salah satu opsi untuk mitigasi GRK di sektor tranportasi pada saat ini. Diharapkan di masa mendatang BBN juga dapat menjadi substitusi BBM di sektor lainnya.

Untuk mengetahui potensi pengurangan emisi GRK dari pemanfaatan BBN maka harus diperhitungkan besarnya penggunaan BBM yang dapat disubstitusi dengan menggunakan BBN. Dasar untuk perhitungan emisi GRK yang sering digunakan adalah:

• Revised 1996 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, dan
• 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories.

Berdasarkan 2006 IPCC Guidelines maka penggunaan BBN tidak dihitung emisi CO2 tetapi dicantumkan dalam bagian sendiri karena biomasa yang digunakan untuk BBN ini sudah dihitung emisinya dalam sektor Agriculture, Forestry and Other Land Use (AFOLU). Emisi GRK dari penggunaan BBN dianggap nol bila berasal dari perkebunan yang dikelola secara berkesinambungan. Perhitungan disini menggunakan pendekatan Tier 1 yang berdasarkan basis bahan bakar. Emisi yang ditimbulkan dari semua sumber pembakaran dapat dihitung berdasarkan kuantitas bahan bakar dan faktor emisi rata-rata.

Dengan pendekatan ini, emisi CO2 dihitung dengan menggunakan rumus:


dengan:

Emisi = Emisi CO2 dalam (kg)
Fuela = Kuantitas Bahan Bakar (TJ)
EFa = Faktor Emisi (kg/TJ)
a = Jenis Bahan Bakar (minyak solar, minyak diesel, dan sebagainya)

Faktor emisi untuk setiap bahan bakar ditunjukkan pada Tabel 4. Potensi pengurangan emisi CO2 untuk penggunaan biodiesel ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 4. Faktor Emisi dan Nilai Kalor Bahan Bakar

Bahan Bakar
Faktor Emisi CO2
Nilai Kalor
(kg/TJ)
(TJ/Gg)
Bensin
69.300
44,3
Minyak Solar/Diesel
74.100
43,0
LPG
63.100
47,3
Minyak Tanah
71.900
43,8
Pelumas
73.300
40,2
Biodiesel
70.800
27,0
Bioetanol
70.800
27,0
BBN Lainnya
79.600
27,4
Sumber: 2006 IPCC Guidelines

Tabel 5. Potensi Pengurangan Emisi CO2 dari Penggunaan Biodiesel

Parameter
Unit/tahun
Jangka Menengah (2010-2015)
Jangka Panjang (2015-2025)
Substitusi Minyak Solar
Ton minyak
6,000,000
16,000,000
Pengurangan Emisi CO2
Juta ton
19.12
50.98

Penanaman biomasa termasuk kelapa sawit merupakan sumber penyerapan CO2 karena adanya proses fotosintesis dan respirasi. Pengembangan kebun kelapa sawit dengan pola tanpa bakar (zero burning) dapat menghasilkan O2, menyerap CO2 (diprakirakan sekitar 22.470 ton CO2/ha) dan menghasilkan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Satu hektar kebun sawit yang sudah berproduksi dapat menghasilkan biomassa berupa batang, pelepah dan tandan sawit sebesar 36 ton per tahun. Jumlah biomassa sebanyak ini dapat menyerap emisi CO2 sebanyak 25 ton per tahun dan mengubahnya menjadi udara bersih berupa O2 sebanyak 18 ton per tahun (Deptan, 2008). Potensi ini dapat ditransaksikan melalui mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism-CDM).

Kegiatan sektor pertanian dan kehutanan lain yang terkait mitigasi GRK adalah:

• Memanfaatkan biomas sebagai pengganti bahan bakar fosil, dan
• Perluasan areal pertanian dengan tidak membuka hutan.

Namun, proses penggenangan sawah, penggunaan pupuk yang berlebihan, konversi lahan dari hutan menjadi perkebunan, dan pembakaran sisa tanaman untuk perluasan areal pertanian berkontribusi dalam meningkatkan emisi GRK.

3.4. Kendala

Keekonomian sumberdaya energi tidak hanya ditentukan berdasarkan harga sumber energi itu sendiri, tetapi juga ditentukan oleh harga sumber energi sejenis yang menjadi substitusi. Biodiesel yang diperkenalkan sebagai substitusi BBM, keekonomiannya sangat tergantung pada harga minyak mentah. Semakin tinggi harga minyak mentah akan membuat harga BBM yang merupakan hasil kilang dari minyak mentah ikut meningkat. Dengan kenaikan harga minyak yang sudah melebihi 60 US$/barel diharapkan akan semakin kecilnya perbedaan harga antara biodiesel dengan BBM atau bahkan biodiesel menjadi lebih kompetitif. Namun, seperti dapat dilihat pada Gambar 4, kenaikan harga minyak diikuti juga kenaikan harga CPO. Karena komponen biaya terbesar untuk produksi biodiesel adalah harga CPO maka biaya produksinya juga meningkat. Sementara itu, harga BBM masih tetap disubsidi sehingga perbedaan harga biodiesel dan BBM akan semakin besar dan biodiesel tetap tidak ekonomis.
Perkembangan Harga CPO dan Minyak Mentah
Gambar 4. Perkembangan Harga CPO dan Minyak Mentah.
Fenomena ini dapat menjelaskan ditutupnya sekitar 17 pabrik biofuel sejak Agustus 2007 lalu. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengungkapkan bahwa saat ini hanya tersisa lima perusahaan biodiesel yang masih sanggup beroperasi. Produksi biodiesel pada tahun 2007 dipastikan menurun hingga 60% dari total produksi yang mencapai 700 ribu ton per tahun. Pemerintah mendorong industri biodiesel dari CPO untuk beralih ke bahan baku lain yang harganya lebih murah. Di sisi lain, pengembangan biodiesel dari biji jarak pagar tidak berjalan mulus karena belum ada kesesuaian harga biji jarak antara pengusaha dengan petani.

Kendala lain yaitu regulasi tata niaga BBN belum sepenuhnya mendukung pengembangan pasar BBN dalam negeri. Perlu ada penetapan tata niaga yang sederhana dari BBN sebagai bahan bakar lain ke dalam sistem tata niaga BBM. Secara umum agar kendala-kendala di atas dapat diatasi harus didukung adanya kebijakan pemerintah mengenai pertanian dan kehutanan yang terkait dengan peruntukan lahan, kebijakan insentif bagi pengembangan BBN, dan kejelasan informasi bagi pengusaha yang tertarik dalam bisnis BBN.

4. Kesimpulan dan Saran

Tingginya harga minyak mentah dunia mengakibatkan beban pemerintah dalam menyediakan subsidi BBM semakin meningkat. Karena sebagian besar BBM tersebut digunakan untuk sektor transportasi maka perlu segera dicari bahan bakar alternatif sebagai substitusi BBM. BBN merupakan salah satu alternatif yang dipandang banyak mempunyai keunggulan karena ramah lingkungan. Disisi lain penggunaan BBN dapat mengurangi emisi GRK dan dengan pengembangan BBN secara tidak langsung turut berperan dalam menangani masalah perubahan iklim. Biodiesel dari CPO merupakan salah satu jenis BBN yang sudah dikembangkan secara intensif meskipun masih banyak kendala yang harus diselesaikan.

Produksi CPO yang utama saat ini diperuntukkan untuk keperluan non energi seperti bahan baku pembuatan minyak goreng, sabun dan sebagai komoditas ekspor. Penggunaan CPO sebagai bahan baku biodiesel dikhawatirkan akan memicu terjadinya konflik kepentingan sehingga dapat mengganggu pasokan untuk keperluan non energi tersebut. Oleh karena itu diperlukan perluasan lahan kelapa sawit yang didedikasikan khusus untuk pasokan bahan baku biodiesel. Namun perluasan ini tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah pengembangan lahan yang berwawasan lingkungan.

Daftar Pustaka :

Ardiansyah, F. (2006) Realising Sustainable Oil Palm Development in Indonesia-Challenges and Opportunities, presented at the International Oil Palm Conference 2006, Bali.

Deptan (2008) Kebijakan Nasional Mitigasi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian, Dipresentasikan pada Working Group Discussion, Second National Communication - KLH-UNDP, Tim Mitigasi Gas Rumah Kaca, Departemen Pertanian, Jakarta, 5 Maret 2008.

KLH (2007) Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim, Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

KNRT (2006) Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2025, Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Sugiyono, A. (2005) Pemanfaatan Biofuel dalam Penyediaan Energi Nasional Jangka Panjang, Prosiding Teknologi untuk Negeri, Volume I: Bidang Teknologi Energi, BPPT, Jakarta.

Sugiyono, A. (2006) Peluang Pemanfaatan Biodiesel dari Kelapa Sawit sebagai Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak Solar di Indonesia, dalam Suharyono dan Nurrohim (Editor) Prospek Pengembangan Bio-Fuel Sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak, PTPSE-BPPT, Jakarta.

Timnas BBN (2006) Blue Print Pengembangan Bahan Bakar Nabati untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran 2006-2025, Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati.

van Thuijl, E. Roos, C.J. and Beurskens, L.W.M. (2003) An Overview of Biofuel Technologies, Markets and Policies in Europe, ECN Policy Studies No. ECN-C--03-008, Energy Research Centre of the Netherlands.

Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Pengembangan Bahan Bakar Nabati1

Bambang Prastowo2

ABSTRAK

Penggunaan energi nasional kita masih sangat boros. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya perbandingan antara tingkat pertumbuhan konsumsi energi dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional atau biasa disebut elastisitas energi. Dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat yang hanya 0,10 dan 0,26, elastisitas energi nasional Indonesia masih tinggi, yaitu sekitar 1,84. Berkenaan dengan pengelolaan energi ini, pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan energi nasional melalui terbitnya Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Enersi Nasional yang antara lain menetapkan sasaran penggunaan bahan bakar nabati menjadi lebih dari 5 % terhadap konsumsi enersi nasional pada tahun 2025.

Bahan bakar nabati adalah sejenis bahan bakar yang bahan bakunya bisa berasal dari berbagai sumber daya nabati yaitu kelompok minyak dan lemak seperti minyak sawit, minyak kelapa, minyak kanola, minyak kedelai, kacang tanah, jarak pagar. Ditinjau dari bentuknya, bahan bakar nabati bisa berbentuk padat, gas atau cair. Seperti bahan bakar minyak (BBM), BBN cair adalah yang paling luas dan paling fleksibel penggunaannya sampai saat ini. Penggunaan BBN cair sudah mulai dicoba dan kompor khusus untuk inipun sudah ada yang mencoba. Puslitbangbun mencoba kompor protos untuk minyak jarak, CPO dan minyak kelapa, dan power yang dihasilkan tidak banyak perbedaan. Sedangkan untuk bungkil jarak pagar, bukan hanya minyaknya yang dapat dimanfaatkan. Bungkil hasil dari pemerasan biji jarak pagar masih bisa diproses menghasilkan biogas.

Pengembangan inovasi teknologi pertanian terutama yang mendukung pengembangan sumber bahan bakar nabati terus dilakukan, walaupun selama ini lebih banyak ditujukan untuk pengembangan komoditasnya itu sendiri. Bagi komoditas seperti kelapa sawit, tebu dan ubi kayu relatif teknologinya sudah lebih tersedia dibandingkan dengan jarak pagar. Sampai saat ini, keempat komoditas tersebut sebenarnya sudah tersedia varietas/benih unggulnya. Oleh karena itu, penerapan teknologi yang benar hendaknya tetap menjadi perhatian kita, agar masyarakat dapat memperoleh manfaat dari usaha tani komoditas komoditas tersebut, termasuk alat-alat dan mesin-mesin yang dapat digunakan untuk itu.

Kata Kunci : bahan bakar nabati, kompor minyak nabati, reaktor biogas, biomasa

1) Disampaikan dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian (Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta, 18-19 November 2008)
Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008.
2) Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, e-mail: bprastowo@gmail.com ;
prastowo@deptan.go.id

A. PENDAHULUAN

Masalah energi nasional yang mendasar saat ini adalah kecenderungan konsumsi energi fosil yang semakin besar, energi mix yang masih timpang, dan harga minyak dunia yang tidak menentu. Energi mix adalah proporsi berbagai jenis energi yang digunakan secara nasional. Adanya ketimpangan energi mix menyebabkan terjadinya penggunaan salah satu jenis energi yang terlalu dominan. Pada tahun 2003 penggunaan enersi yang berasal dari minyak bumi masih sekitar 54,4 %, sedangkan porsi sisanya menggunakan lebih dari empat jenis energi lainnya, yaitu gas bumi, batubara dan lainnya. Secara lebih rinci, proporsi penggunaan gas bumi adalah 26,5 %, batubara 14,1 %, tenaga air 3,4 %, panas bumi 1,4 %, sedangkan penggunaan energi lainnya termasuk bahan bakar nabati atau biofuel hanya sekitar 0,2 % (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, 2006). Artinya, Indonesia sangat tergantung terutama pada ketersediaan minyak bumi. Penggunaan energi nasional juga masih sangat boros, yang ditunjukkan oleh tingginya perbandingan antara tingkat pertumbuhan konsumsi energi dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional atau biasa disebut elastisitas energi. Dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat yang elastisitas energinya hanya 0,10 dan 0,26, elastisitas energi nasional Indonesia masih tinggi, yaitu sekitar 1,84. Ketimpangan energi mix dan masih tingginya elstisitas energi secara nasional ini mengakibatkan beban nasional semakin berat, sehingga memerlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.

Agenda nasional mengenai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam jangka pendek 5 tahun ke depan juga telah menyinggung masalah energi, terutama adalah pengembangan energi terbarukan (Kadiman, 2006). Hal ini tentu sejalan dengan langkahlangkah strategis untuk mengatasi masalah energi nasional. Jika disinggung masalah energi terbarukan, maka selain sumber energi alternatif seperti angin, surya, gelombang dan lainnya, tentu juga akan mengarah kepada sumber alternatif lainnya yaitu bahan bakar nabati (BBN), khususnya komoditas asal tanaman perkebunan. Seperti juga saat Indonesia mengalami krisis moneter, maka pertanian masih menjadi salah satu andalan dalam mengatasi masalah energi secara nasional. Hal antara lain dicerminkan dengan terbitnya Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Enersi Nasional yang antara lain menetapkan sasaran penggunaan bahan bakar nabati menjadi lebih dari 5 % terhadap konsumsi enersi nasional pada tahun 2025. Oleh karena itu, percepatan inovasi teknologi pertanian harus terus dilakukan untuk mendukung pencapaian target penggunaan bahan nabati tersebut.

1. Bahan Bakar Nabati

Bahan bakar nabati (BBN) adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar nabati adalah semua bentuk minyak nabati, yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar, baik dalam bentuk esternya (biodiesel) atau anhydrous alkoholnya (bioetanol) maupun minyak nabati murninya (Pure Plant Oil atau PPO). Dengan beberapa persyaratan tertentu, biodiesel dapat menggantikan solar, bioetanol dapat menggantikan premium, sedangkan bio-oil dapat menggantikan minyak tanah.

Nilai ekonomi suatu sumber energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya energi yang dapat diperoleh dari sumber itu, tetapi juga oleh bentuk final penyerahannya kepada konsumen akhir. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa dua bentuk final utama dari energi komersial adalah bahan bakar dan listrik (kalor atau ”heat”) juga dapat merupakan bentuk final, tetapi biasanya hanya dimanfaatkan (ditransaksikan) di lokasi pembangkitan (Soerawidjaja, 2006). Di antara aneka bahan bakar, yang berwujud fasa cair adalah yang paling bernilai ekonomi tinggi, karena berenergi spesifik (energi/satuan volume) besar, mudah ditangani, dibawa dan ditransportasikan secara efisien serta aman, sehingga berperan dominan dalam sektor transportasi dan pembangkitan listrik dengan motor-motor bakar portabel.

Berdasarkan pengertian seperti ini, maka komoditas pertanian khususnya perkebunan memiliki banyak jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif atau sebagai sumber bahan bakar nabati. Komoditas tersebut terutama adalah tanaman yang dapat menghasilkan minyak lemak nabati, yang secara mudah dapat diubah menjadi biodiesel maupun digunakan langsung (Tabel 1).

Pembeda dalam memilih tanaman penghasil BBN antara lain nilai-nilai bakar hasil minyaknya, yang parameternya dapat berupa : titik bakar, kekentalan, nilai kalori dan lainnya (Tabel 2) Titik bakar dari semua minyak nabati adalah jauh lebih tinggi dibandingkan minyak tanah maupun solar. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi peralatan jika ingin memanfaatkan minyak nabati tersebut.

Tabel 1. Beberapa Jenis Tanaman Penghasil Minyak Lemak Nabati

Indonesia
Inggris
Latin
Sawit
Oil Palm
Elaeis guineensis
Kelapa
Coconut
Cocos nucifera
Alpukat
Avocado
Persea americana
Kacang Brazil
Brazil nut
Bertholletia excelsa
Kacang Makadam
Macadamia nut
Macadamia ternif.
Jarak Pagar
Physic nut
Jatropha curcas
Jojoba
Jojoba
Simmondsia california
Kacang Pekan
Pecan nut
Carya pecan
Jarak Kaliki
Castor
Ricinus communis
Zaitun
Olive
Olea europea
Kanola
Rapeseed
Brassica napus
Opium
Poppy
Papaver somniferum
Sumber : Soerawidjaja, 2006

Tabel 2. Nilai Beberapa Minyak Nabati dan Minyak Fosil

Jenis Minyak
Titik Bakar (oC)
Kekentalan (10 -6 m2/s)
Iodine Value
Saponifica tion Value
Gross Calorification (MJ/Kg)
Jarak Pagar
340
75,7
103,0
198,0
39,65
Kelapa
270-300
51,9
10,4
268,0
37,54
Kelapa Sawit
314
88,6
54,2
199,1
39,54
Rapeseed
317
97,7
98,6
174,7
40,56
Bnga Matahari
316
65,8
132,0
190,0
39,81
Minyak Tanah
50-55
2,2
-
-
43,50
Minyak Solar
55
2-8
-
-
45,00
Sumber : Lide dan Frederikse,1995 dalam Mühlbauer et al. (1998).

Selain nilai bakar minyak tersebut, pemilihan jenis tanaman penghasil BBN juga atas pertimbangan penggunaan sehari-hari hasil tanaman tersebut, antara lain pilihan antara untuk pangan atau pakan dan lainnya. Berdasarkan hal ini maka BBN asal jarak pagar memiliki beberapa kelebihan. Keuntungan yang dimiliki jarak pagar dibandingkan dengan tanaman lainnya karena tanaman ini hanya memiliki sedikit fungsi lain dan terbatas, sehingga persaingan penggunaanya juga terbatas. Berbeda dengan tanaman lainnya seperti kelapa sawit, ubikayu, sorgum dan kelapa, memiliki fungsi lain yang sangat penting yaitu sebagai bahan pangan. Kenaikan permintaan pangan akan meningkatkan harga jenis tanaman tersebut, akibatnya harga komoditi tersebut sebagai sumber BBN juga akan semakin mahal. Hal ini tidak dialami tanaman jarak pagar, oleh karena itu peluang pengembangannya cukup baik.

Prioritas berikutnya adalah minyak asal kelapa maupun kelapa sawit antara lain untuk alternatif minyak solar dan ubikayu untuk alternatif minyak premium. Pertimbangannya karena tersedianya tanaman tersebut hampir di seluruh tempat di Indonesia, terutama tanaman kelapa. Walaupun tanaman tersebut juga untuk keperluan pangan, tetapi ketersediaannya yang melimpah perlu mendapat perhatian serius. Tentu saja pertimbangan proporsi penggunaan antara pangan atau energi harus selalu menjadi acuan.

Inovasi teknologi telah dilakukan terhadap komoditas penghasil bahan bakar nabati tersebut. Teknologi pertanian untuk kelapa sawit dan ubikayu relatif lebih tersedia dibandingkan dengan kelapa maupun jarak pagar. Luas areal tanaman kelapa sawit adalah lebih dari 5,5 juta ha, dengan total produksi CPO sekitar 17 juta ton. Konsumsi CPO di dalam negeri hanya sekitar 4 juta ton dan lainnya sekitar 13 juta diekspor dab sebagian untuk pembuatan biodiesel (Ditjenbun, 2008). Data tahun 2008 saat ini dengan dukungan varitas unggul kelapa sawit seperti Deli Dura x Pisifera Dolok Sinumbah, Deli Dura x Pisifera Bah Jambi, Deli Dura x Pisifera Marihat, Deli Dura x Pisifera lame, Deli Dura xPisiferaYangambi, Deli Dura x Pisifera AVROS dan lainnya. Dibandingkan dengan komoditas yang lain, kelapa sawit telah memiliki tekonologin yang lebih memadai.

Luas kelapa saat ini diperkirakan 3,5 juta ha, dengan dukungan varitas unggul yang cukup banyak, antara lain varitas Tenga, Palu, Genjah Salak dan lainnya. Ketersediaan varitas-varietas hasil inovasi tersebut cukup untuk pengembangan selanjutnya jika diinginkan. Kendalanya adalah bahwa saat ini 20 % pertanaman kelapa di Indonesia memerukan rehabilitasi dan peremajaan, karena selama ini kurang perawatan. Untuk ubikayu, walaupun total luas pertanaman secara nasional saat ini hanya sekitar lebih dari satu juta ha, tetapi varietas-varietas unggul yang tersedia dan cocok untuk pembuatan bioetanol cukup memadai, seperti misalnya Adira-4, UJ-3 dan UJ-5, serta Malang-6 dan lainnya (Wargiono et al., 2001).

Daya adaptasi tanaman ubikayu yang cukup tinggi hampir di semua wilayah Indonesia memberi peluang besar bagi pemanfaatan ubikayu untuk memproduksi bahan bakat nabati. Seperti telah dijelaskan, tanaman penghasil bahan berikutnya adalah tanaman jarak pagar. Tanaman ini tanaman non edibel, sehingga diharapkan tidak akan bersaing terlalu banyak dengan produksi pangan. Sedangkan tanaman jarak pagar, walaupun pada tahun 2008 ini luas tanaman jarak pagar di seluruh Indonesia diperkirakan hanya sekitar 130 ribu ha (Timnas BBN, 2008), tetapi lahan yang sesuai untuk tanaman ini sebenarnya cukup luas. Lahan yang sangat sesuai untuk tanaman jarak pagar ada sekitar 5,5 juta ha, dan bahkan baru saja selesai peta kesesuaian lahannya ( Alollerung et al. 2006; Mulyani dan Las, 2008). Peta ini masih perlu ditumpang-tindih dengan peta peruntukan yang sudah ada dan masterplan daerah sehingga luasannya akan lebih rendah dari itu.

Bibit unggul jarak pagar juga sudah tersedia sejak tahun 2006, yaitu IP-1 dengan potensi hsil 4-5 ton/ha tersedia sejak tahun 2006, dan IP-2 dengan potensi sekitar 6-8 ton/ha tersedia sejak tahun 2007 (Hasnam et al., 2007 dan 2008). Adanya peta kesesuaian lahan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua lahan apalagi lahan kritis sesuai untuk jarak pagar. Tanaman jarak pagar memang masih dapat tumbuh di lahan kritis, tetapi tidak akan menghasilkan buah, sedangkan untuk menghasilkan bahan bakar nabati diperlukan buah yang banyak, oleh karena itu perawatan yang memadai tetap diperlukan.

B. INOVASI TEKNOLOGI UNTUK PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR NABATI

Penggunaan langsung minyak murni maksudnya adalah penggunaan minyak hasil tanaman (pure plant oil atau crude oil) tanpa perlu proses transesterifikasi. Proses transesterifikasi memerlukan biaya tambahan dibandingkan jika hanya menggunakan minyak murni. Pembuatan biodiesel melalui proses transesterifikasi memerlukan metanol sebagai katalisator. Semakin banyaknya produksi biodiesel dan mahalnya metanol akan menjadi kendala tersendiri. Walaupun demikian, tetap ada pilihan teknologi dengan skala kecil untuk dapat memproses biodiesel. Puslitbangbun Bogor bekerjasama dengan ITB Bandung telah mengembangkann mesin pemroses minyak babati menjadi biodiesel skala kecil, dengan kapasitas sekitar 100 liter per hari. Ukuran ini diarahkan untuk keperluan kelompok tani dan keperluan sekitarnya. Teknologi untuk proses transesterifikasi sebenarnya sudah cukup tersedia, termasuk peralatannya, yang sebenarnya tidak terlalu rumit.

Jika tujuannya adalah membantu masyarakat kelas rendah pengguna minyak tanah, maka minyak murni menjadi pilihan, karena pengguna utama biodiesel adalah sektor transportasi, termasuk masyarakat kelas menengah ke atas penggunan kendaraan bermotor. Secara nasional memang penggunaan bahan bakar minyak asal fosil (BBM) adalah sektor transportasi. Jadi juga tidak salah jika pemerintah ingin mengatasi hal ini. Kedua pilihan tersebut masing-masing memiliki kendala dan persyaratan. Titik bakar yang cukup tinggi dari minyak nabati (crude oil) memerlukan proses pembakaran tertentu untuk menghasilkan penyalaan yang baik. Oleh karena itu memerlukan peralatan atau kompor khusus, yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dibuat dan dicoba-coba.

Menurut sifatnya, maka minyak nabati harus dalam bentuk kabut atau uap agar dapat terbakar secara baik. Jadi minyak harus mendapat tekanan yang cukup sebelum kemudian disemprotkan bersamaan dengan proses pemanasan awalnya sehingga kabut atau uap minyak dapat terbakar secara baik. Hal ini memerlukan kompor yang memiliki tabung bertekanan cukup (sekitar 2 – 3 bar). Kompor semacam ini sudah banyak digunakan oleh para penjual jajanan atau kaki lima, tetapi biasanya menggunakan minyak tanah. Sifat fisikokimia yang berbeda menyebabkan kompor semacam ini harus dimodifikasi agar dapat digunakan untuk BBN dalam bentuk minyak kasar (crude oil). Bentuk khusus nozzle diperlukan untuk mempermudah pembersihan sisa-sisa pembakarannya. Jika dipakai nozzle kompor semawar seperti yang diapakai kaki lima, dapat dipastikan tidak akan tahan lama karena segera akan buntuk karena sisa pembakaran.

Reksowardojo et al. (2006) pernah mencoba memodifikasi kompor tekan yang awalnya untuk minyak tanah. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk penyalaan awal memang lebih lama dibandingkan jika menggunakan minyak tanah. Hal ini wajar, karena titik bakar minyak jarak lebih tinggi dibandingkan minyak tanah. Rancangan yang berbeda sudah dicoba dan berhasil dipakai dengan BBN asal kelapa, bunga matahari dan jarak pagar (Muhlbaur et al., 1998 ; Mueller et al., 2006). Jenis rancangan kompor yang cocok masih terus dicoba secara luas dan mendalam agar penggunaan BBN dalam bentuk minyak murni dapat bermanfaat bagi rumah tangga masyarakat kelas bawah di Indonesia. Kompor jenis ini dikenal dengan nama protos, yang dikembangkan oleh Universitas Hohenheim, dan saat ini bekerjasama dengan Puslitbangbun dicoba dikembangkann di Indonesia dan saat ini sedang disiapkan produksi masalnya oleh perusahaan Bosh-Siemen di Indonesia. Kompor ini dapat digunakan dengan bahan bakar nabati asal kelapa, kelapa sawit dan jarak pagar (Bambang, 2007). Power yang dihasilkan dari ketiganya tidak banyak berbeda. Masyarakat sebagai panelis pengguna lebih banyak menyukai bahan bakar nabatin asal jarak pagar untuk kompor ini. Alasan utamanya adalah residu pembakaran yang lebih mudah pembersihannya. Titik bakar (fuel ignition point) dari BBN yang lebih tinggi dibandingkan minyak tanah atau solar (Tabel 2) menyebabkan perlunya pemanasan awal pada penggunaan kompor tekan tersebut.

Hal ini sama seperti halnya pemakaian lampu petromak. Penggunaan kompor tekan dengan bahan bakar minyak tanah juga masih memerlukan pemanasan awal, hanya waktu pemanasannya lebih cepat karena titik bakar minyak tanah lebih rendah dibandingkan minyak jarak pagar maupun minyak kelapa.

Inovasi teknologi sebenarnya diperlukan bukan hanya untuk pemanfaatan minyak nabatinya. Seperti diketahui bahwa dalam proses pengambilan minyak nabati, misalnya pada pengepresan biji jarak pagar, akan dihasilkan hasil samping berupa biomasa padat atau bungkil (seed cake) yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Dengan kandungan minyak pada biji jarak unggul IP-1 dan IP-2 sekitar 35 % (ekstraksi), maka setelah dipres akan menghasilkan sekitar 28 % minyak kasar, sehingga dalam bungkil jara pagar masih terdapat sekitar 7 % minyak. Oleh karena kandungan minyak hanya 35 %, maka sedikitnya masih terdapat bungkil 65 % dari hasil panen jarak pagar yang masih dapat dimanfaatkan, baik secara dibakar langsung, diproses lagi maupun lainnya dalam bentuk briket.

Untuk diproses lebih lanjut, bungkil ini dapat dimasukkan ke dalam tangki reaktor kecil sederhana untuk menghasilkan biogas. Setelah beberapa hari dan dicampur sedikit air dengan kotoran ternak sebagain pemicu proses digestasi, maka dalam satu sampai dua bulan, sudah dapat dihasilkan biogas. Sebagai contoh untuk 224 kg reaktor dapat menghasilkan sekitar 112 m3 biogas dalam selama tiga bulan. Kualitas gas yang dihasilkan dapat ditunjukkan dengan penggunaannya untuk menanak air sejumlah 3 liter dalam waktu 14 menit (Balittri, 2008), atau minimal setara dengan 2 Mjoule per tiga bulan. Sebagai perbandingan, untuk mendidihkan air sejumlah 4 liter dengan menggunakan kompor minyak nabati memerlukan waktu 11-12 menit atau 9-10 menit jika menggunakan kompor minyak tanah.

Melalui inovasi teknologi keteknikan pertanian, pemanfaatan bahan bakar nabati tidak terbatas dalam bentuk cairnya, tetapi juga bentuk padatan dan bahkan bentuk gas. Perancangan peralatan pertanian untuk keperluan ini sudah mulai dikembangkan, dan sebaiknya terus dilanjutkan agar potensi tanaman penghasil bahan bakar bakar nabati yang sangat melimpah di Indonesia dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat.

C. PENUTUP

Kebijakan Enersi Nasional yang menetapkan sasaran penggunaan bahan bakar nabati menjadi lebih dari 5 % terhadap konsumsi enersi nasional pada tahun 2025 memerlukaan dukung inovasi teknologi pertanian yang serbacakup agar bahan bakar nabati dapat dimanfaatkan secara optimal. Ditinjau dari bentuknya, bahan bakar nabati bisa padat, gas atau cair. Seperti halnya bahan bakar minyak, Bahan Bakar Nabati (BBN) cair adalah yang paling luas dan paling fleksibel penggunaannya sampai saat ini. Inovasi teknologi peralatan untuk keperluan ini sudah mulai banyak dicobakan. Misalnya penggunaan BBN cair sudah mulai dicoba dan kompor khusus untuk inipun sudah ada yang mencoba. Puslitbangbun mencoba kompor protos untuk minyak jarak, CPO dan minyak kelapa, dengan hasil kinerja yang tidak banyak perbedaan. Sedangkan untuk jarak pagar, bukan hanya minyaknya yang dapat dimanfaatkan, karena bungkil hasil dari pemerasan bijinya masih bisa diproses menghasilkan biogas melalui pemanfaatan reaktor kecil sederhana yang direkayasa sesuai untuk kelompok tani. Briket dari bungkil jarak pagar juga dapat dimanfaatkan menggunakan kompor yang dirancang khusus untuk itu.

Inovasi teknologi terutama peralatannya yang sesuai untuk skala kecil menengah masih perlu terus dipraktekkan agar pengembangan dan pemanfaatan bahan bakar nabati dapat terus berkembang, seiring dengan makin langkanya bahan bakar asal fosil. Untuk itu inovasi untuk pengembangan bahan bakar nabati generasi kedua sudah harus mulai dikaji penerapannya di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Allorerung, D., Mahmud, Z., Rivaie, A. R., Effendi, D. S., dan Mulyani, A. 2006. Peta Kesesuaian Lahan dan Iklim Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Lokakarya Status Teknologi Budidaya Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Jakarta 11-12 April 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Balittri. 2008. Biogas dari Bungkil Jarak Pagar (Jatropha Curcas L). Leaflet Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri). Sukabumi.

Bambang Prastowo. 2007. Kompor Berbahan Bakar Minyak Nabati. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 29(6): 7- 9

Ditjenbun. 2006. Pengembagan Tanaman Perkebunan Sebagai Bahan Baku Bahan Bakar Nabati (biofuel). Departemen Pertanian. Jakarta.

Hasnam, Zainal M, David L, Elna K, Widi R and Titik Y. 2007. Cultivtion of Jatropha Curcas L. In Indonesia. Puslitbangbun. Bogor

Hasnam, Cheppy S, Sri W, Dibyo P, Edi P dan Susi ES. 2008. Populasi Komposit Jarak Pagar Jatropha Curcas L. IP-2P, IP-2M, IP-2ª. Puslitbangbun. Bogor.

Kadiman, Kusmayanto. 2006. Perspektif Teknologi untuk Energi Alternatif. Kementerian Riset dan Teknologi. Jakarta.

Lide, D.R. and H.P.R. Frederikse. 1995. CRC Handbook of chemistry and physics. CRC Press, Boca Raton, USA. Dalam Mühlbauer, W., A. Esper, E. Stumpf and R. Baumann. 1998. Plant Oil-based Cooking Stove – A Technology Update.

Makalah dalam Workshop Rural Energy, Equity and Employment : Role of Atrophy Curcas. Harare, Zimbabwe, 13 – 15 May 1998. Scientific and Industrial Research and Development Centre (SIRDC). The Rockefeller Foundation.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. 2006. Program Aksi Penyediaan dan Pemanfaatan Energi Alternatif. Jakarta.

Mühlbauer, W., A. Esper, E. Stumpf and R. Baumann. 1998. Plant Oil-based Cooking Stove – A Technology Update. Makalah dalam Workshop Rural Energy,

Equity and Employment : Role of Atrophy Curcas. Harare, Zimbabwe, 13 – 15 May 1998. Scientific and Industrial Research and Development Centre (SIRDC). The Rockefeller Foundation.

Müller J, Kratzeisen M, Weis K, Stumpf E, Mühlbauer W. 2006. Jatropha Curcas Derivatives as Alternative Energy Source for Households. Makalah pada Lokakarya II Status Teknologi Jarak pagar. 29 November 2006. Puslitbang Perkebunan. Bogor.

Mulyani, Anny dan Irsal Las. 2008. Potensi Sumber Daya Lahan dan Optimalisasi Pengembangan Komoditas Penghasil Bioenergi di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 27 (1) :31-41

Reksowardojo, IK. , A. Surachman, Tri Sigit.P, Ibrahim, T. H. Soerawidjaja, T. P. Brodjonegoro. 2006. Pemakaian Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas l.) pada Kompor Bertekanan. Makalah pada Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian dan

Bioenergi untuk Industri Pertanian tgl 29-30 November 2006 di Bogor. Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Energi Alternatif Dari Kelapa. Konferensi Nasional Kelapa VI. Puslitbangbun. Gorontalo.

Timnas BBN. 2008. Laporan Akhir Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati. Lokakarya Sosialisasi dan Disemisasi Pengembangan BBN. Dep. ESDM. Jakarta, 21 Juli 2008.

Wargiono., J., Widodo Y., dan W.H. Utomo. 2001. Cassava agronomy research and adoption of improved practices in Indonesia – major achievements during the past 30 years. Cassava’s Potential in Asia in the 21st Century: Present Situation and Future

Research and Development Needs. Proc. Of the Sixth Regional Workshop held in Ho Chi Minch City, Vietnam: 259-278.

Anda sekarang sudah mengetahui Bahan Bakar Nabati. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bahan Bakar Nabati Biofuel Mikroalga